Menjelang pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025, Kopdit Sangosay menggelar ritual adat Ti’i Ka Ebu Nusi, tradisi masyarakat Bajawa y...
Menjelang pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2025, Kopdit Sangosay menggelar ritual adat Ti’i Ka Ebu Nusi, tradisi masyarakat Bajawa yang sarat makna spiritual dan budaya. Ritual tersebut dilaksanakan di halaman Kantor Pusat Kopdit Sangosay, Bajawa, Kabupaten Ngada, Minggu (15/3/2026), sebagai ungkapan syukur sekaligus doa bersama agar seluruh rangkaian kegiatan RAT berjalan lancar dan membawa kebaikan bagi seluruh anggota koperasi.
Kegiatan ini diikuti oleh unsur Pengurus, Pengawas, Penasehat, serta Manajemen Kopdit Sangosay wilayah Ngada, yang terdiri dari Kantor Pusat, Cabang Utama, dan Cabang Bajawa. Ritual adat ini menjadi pembuka rangkaian kegiatan menuju pelaksanaan RAT sebagai forum tertinggi dalam koperasi.
Tokoh adat Bajawa yang memimpin ritual tersebut, Arnoldus Meka, menjelaskan bahwa ritual Ti’i Ka Ebu Nusi merupakan bagian dari tradisi masyarakat Bajawa yang dilaksanakan sebagai ungkapan syukur sekaligus pengakuan akan keberadaan Tuhan sebagai sumber kehidupan.
“Ritual adatnya Ti’i ka ebu nusi, ritual adat Bajawa. Sebagai orang berbudaya dan sebagai orang bertuhan, ritual adat ini merupakan bagian dari ungkapan syukur. Dasarnya adalah penalaran bahwa semua yang ada bertuhan, dan semua yang hidup bersumber dari pemberi kehidupan. Jadi semua yang ada itu bertuhan dan berpemilik,” ujar Arnoldus.
Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan masyarakat Ngada, setiap usaha dan aktivitas manusia selalu dikaitkan dengan tuntunan spiritual, baik secara agama maupun secara budaya.
“Bertalian dengan usaha ataupun kegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan koperasi atau kehidupan sehari-hari, kalau disandingkan semuanya adalah berkat dan tuntunan spiritual. Secara agama kita yakin adanya Tuhan, dan secara budaya kita juga yakin Dewa Zeta Nitu Zale, juga roh-roh para pendiri. Secara spiritual diyakini bahwa mereka, secara roh, memberi energi positif dan sedang mendukung kita walau tidak kasat mata,” jelasnya.
(Dewa Zeta dan Nitu Zale adalah konsep religiusitas masyarakat Ngada, Flores, NTT, yang menggambarkan dua kekuatan kosmis. Dewa Zeta berarti “Tuhan di atas” sebagai pencipta dan pelindung, sedangkan Nitu Zale merujuk pada kekuatan roh yang bersemayam di alam. Keduanya melambangkan harmoni kehidupan antara manusia, alam, dan dunia spiritual.)
Arnoldus juga menjelaskan bahwa manusia memiliki hubungan erat dengan alam dan tempat berpijak yang dalam budaya Ngada dikenal dengan ungkapan “Mori Watu Mori Tanah.”
“Di tempat kita berdiri dan berpijak, kita memiliki yang namanya Mori Watu Mori Tanah,” katanya.
(Mori Watu Mori Tanah merupakan ungkapan sakral yang merujuk pada prinsip penguasa batu dan penguasa tanah, yakni penghormatan terhadap alam dan leluhur yang dipercaya menjaga serta melindungi tempat manusia hidup.)
Karena itu, menurut Arnoldus, ritual adat ini dilakukan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan perlindungan bagi seluruh aktivitas koperasi, khususnya menjelang pelaksanaan RAT Kopdit Sangosay.
“Sehingga ritual ini bertujuan sebagai ungkapan syukur sekaligus memohon perlindungan dan pendampingan untuk kegiatan RAT. Kita juga memohon pendampingan Tuhan dan leluhur untuk kegiatan besar maupun rutinitas Kopdit, demi kemajuan yang ingin dicapai sesuai visi dan misi Kopdit,” ujarnya.
Arnoldus juga mengaitkan pelaksanaan ritual tersebut dengan tradisi budaya masyarakat Ngada yang dikenal melalui simbol Ngadhu dan Bhaga.
Menurutnya, jika disandingkan dengan tradisi Reba, maka RAT bagi Kopdit Sangosay dapat dimaknai sebagai momen refleksi dan evaluasi perjalanan organisasi.
(Reba merupakan pesta adat tahunan terbesar masyarakat etnis Ngada di Flores, Nusa Tenggara Timur. Tradisi ini menjadi bentuk syukur atas hasil pertanian, penghormatan kepada leluhur, serta momentum evaluasi kehidupan masyarakat.)
“Karena dalam Reba itu ada momen evaluasi dan laporan kegiatan sebelumnya, maka bagi Kopdit Sangosay, Reba-nya adalah RAT. Inilah yang disebut Kobe Dheke. Kita melakukan Ti’i ka ebu nusi—memberi makan kepada nenek moyang—dengan zia ura ngana, yaitu korban sembelih hewan babi, yang maknanya memohon agar segala hal diberkati dan berjalan baik,” jelas Arnoldus.
(Kobe Dheke merupakan ritual malam masuk rumah dalam perayaan Reba masyarakat Ngada yang bermakna berkumpulnya seluruh anggota suku di rumah induk atau Sao Puu untuk bersatu dan menghormati leluhur.)
Melalui doa yang dipanjatkan dalam ritual adat tersebut, Kopdit Sangosay juga didoakan agar terus berkembang dan memberi manfaat bagi banyak orang.
“Dalam doa yang diungkapkan dalam ritual adat ini, Kopdit Sangosay didoakan supaya berdiri kuat dan berbuah lebat sehingga buahnya bisa dinikmati oleh banyak orang,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Pengurus Kopdit Sangosay, Petrus E. Y. Ngilo Rato, menegaskan bahwa Kopdit Sangosay selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya sebagai bagian dari identitas dan kekuatan organisasi.
“Sangosay di manapun berada selalu berakar pada budaya, karena dalam budaya ada kearifan lokal dan nilai-nilai yang bisa menjadi inspirasi bagi seluruh keluarga besar Kopdit Sangosay dalam menjalankan usaha, mengelola kegiatan perkantoran, manajemen keuangan, dan melayani anggota,” ujarnya.
Ia juga berharap ritual adat tersebut menjadi doa bersama bagi kelancaran pelaksanaan RAT yang akan segera berlangsung.
“Harapannya, semoga dengan ritual adat ini menjadi doa bersama agar kegiatan besar kita, RAT dalam beberapa hari ke depan, dapat berjalan sesuai rencana. Peserta RAT yang datang dari cabang-cabang jauh boleh sampai dengan selamat di Bajawa dan kembali ke tempat masing-masing dalam keadaan sehat dan selamat,” kata Petrus.
Ritual adat Ti’i Ka Ebu Nusi ini menjadi awal dari rangkaian kegiatan menuju puncak pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan Kopdit Sangosay Tahun Buku 2025, yang akan menjadi forum tertinggi anggota untuk mengevaluasi perjalanan koperasi sekaligus menentukan arah pengembangan Kopdit Sangosay ke depan